Tujuh Cara untuk Membesarkan Mobil Esemka

Yang terpenting dalam berita soal mobil Esemka adalah adanya sekumpulan anak-anak SMK, dengan bantuan sebuah bengkel mobil, telah berhasil merakit sebuah mobil. Jangan terlalu berfokus pada perdebatan politik yang terjadi di sana. Inovasi teknologi jarang menjadi prioritas di Indonesia, sehingga kemunculan mobil Esemka seharusnya dilihat sebagai upaya merangsang inovasi-inovasi teknologi lain itu.

Banyak pembaca Yahoo Indonesia yang tak ingin Esemka menjadi sebuah kesempatan yang terlewatkan. Lalu, kami bertanya apa yang bisa menjadi langkah selanjutnya untuk mengembangkan mobil Esemka?

Apa yang menurut Anda bisa dilakukan pemerintah, baik pusat maupun wilayah, untuk mendorong munculnya lebih banyak penelitian dan inovasi teknologi? Lalu, bagaimana sekolah bisa mendorong murid-murid untuk melakukan lebih banyak eksperimen ilmiah?

Pembaca kami, Danang, memberi enam poin di bawah ini, dan banyak pembaca lain yang mengajukan argumen pendukung. Sementara satu poin terakhir adalah usulan beberapa pembaca yang terus berulang di forum komentar kami. Apa saja yang bisa dilakukan untuk membesarkan mobil Esemka? Berikut jawabannya:

1) Anggaran dana untuk riset dan pengembangan
Tak bisa dipungkiri lagi bahwa pemerintah Indonesia belum memberi perhatian cukup untuk pengembangan dan riset teknologi, terlihat dari segi dana. Maka, pembaca kami, Danang, memberi saran perlunya alokasi anggaran cukup untuk riset dan pengembangan, baik di level SMK/SMU maupun perguruan tinggi.

Pembaca Benyamin Pasullean menambahkan, “Dana yang serba kecil itu, masih disunat lagi oleh pimpinan instansi dengan berbagai cara dan alasan. Akibatnya banyak peneliti yang frustrasi. Jika negeri kita ingin maju, pengiriman SDM keluar negeri untuk menimba ilmu, yang sudah berjalan dengan baik selama ini, harus dibarengi dengan penyediaan ruang memadai untuk mengaplikasikan ilmu yang didapat. Salah satunya adalah dana penelitian yang cukup. Harusnya APBN dan APBD menyediakan dana penelitian dan pengembangan 20%. Masalahnya adalah apa penentu kebijakan rela?”

Hary Mulya juga menambahkan, perlu koin untuk pengetahuan, karena semua negara maju mengeluarkan anggaran besar untuk kemajuan umat manusia. “Sudah 66 tahun Indonesia merdeka, tetapi blm punya pemerintah yang mendukung rakyatnya untuk mengembangkan imajinasi dan teknologi yang lahir dari ide sendiri. Apakah akan selamanya kita sebagai pembeli teknologi bukan sebagai pembuat?”

Sementara menurut Vitria, perlu ada jaringan kerja sama SMK se-Indonesia untuk menyediakan suku cadang mobil Esemka. Jadi layanan purna jualnya akan memberi manfaat bagi murid-murid SMK se-Indonesia.

2) Memperbanyak kompetisi-kompetisi terkait pengembangan riset dan teknologi untuk merangsang ide-ide baru
Menurut Orang Udik, di Australia ada program televisi “New Inventions”, berupa kompetisi yang terbuka untuk umum, sehingga masyarakat tergerak untuk berinovasi teknologi dan menampilkan hasilnya di televisi nasional.

Pembaca Kapuyuak menambahkan, Esemka hanya satu dari banyak kreasi anak bangsa yang tidak pernah muncul ke permukaan karena tidak ada perhatian dan minim publikasi. “Ke depan sebaiknya pemerintah melakukan identifikasi berbagai pencipta mobil nasional di seluruh Indonesia dan kemudian melakukan seleksi dan pembinaan mana yang layak dijual secara komersial. Siapa tahu ada yang lebih baik dari Esemka tapi tidak mendapat publikasi, sehingga tenggelam begitu saja.”

3) Membuat BUMN semacam IPTN kembali sebagai wadah untuk menyalurkan hasil penelitian skala kecil, agar hasil penelitian tidak mati
Diharapkan dengan berdirinya BUMN semacam IPTN atau BUMN pembuat teknologi maka hasil anak-anak bangsa bisa diproduksi dalam skala besar. Rudi juga berpendapat, “Harusnya BUMN bisa ambil peran sentral dalam produksi masal. Indonesia saat ini jadi permainan pemasaran produksi luar negeri, mereka berlomba-lomba menawarkan yang terbaru, karena tahu (kita) sebagai bangsa konsumtif.”

Sementara Kaisar menambahkan, bahwa penting bagi mobil Esemka untuk segera melakukan standarisasi teknis melalui Kemenristek dan BPPT serta melakukan standarisasi administratif sebelum produksi massal dan dipasarkan ke seluruh nusantara. Selain itu, perlu juga untuk menggandeng sektor privat. Seperti kata Antonius, perlu untuk menjalin kerjasama dengan pabrikan kendaraan yang terdapat di Indonesia sebelum memproduksi massal mobil Esemka.

4) Mendorong masyarakat untuk lebih memilih menggunakan produk-produk dalam negeri
Jonathan mengharapkan mobil Esemka bisa mengikuti Pameran Mobil Nasional di Jakarta. “Agar masyarakat luas dapat langsung mengetahui produk bapak. Pasar lapisan bawah justru menurut saya jauh lebih banyak dan harus dikejar, sebelum mobil impor dari Cina memasuki pasar dalam negeri.”

Pertama, menurut Antonius, perlu dilakukan analisis pasar untuk menentukan harga mobil. Tentunya, masyarakat menyukai mobil yang harga murah. Ini dibenarkan oleh pembaca Khus, “Sayang sekali, bagi kami harga 95 juta masih terlalu jauh dari jangkauan. Kalau bisa, bikin mobil yang harganya seperti Nano di India, Rp 20 jutaan.”

Selain dengan harga yang murah, ada beberapa cara lain untuk membuat masyarakat lokal bisa memilih menggunakan produk dalam negeri. Menurut Dedy Yuanda, “Pemerintah harus memberikan fasilitas dengan membebaskan pajak produksi dan pajak pembelian. Utamakan pemasaran dalam negeri, dan lanjutkan untuk ekspor. Jangan persulit urusan birokrasi. Pemerintah memberikan izin uji kelayakan dan membantu biayanya sekalian biaya produksi.”

Pemerintah perlu membuat kebijakan membatasi impor untuk barang-barang luar negeri yang di dalam negeri sendiri sudah bisa diproduksi. Seperti yang dikatakan Chairul, “Sekarang apa sih yang nggak bisa dibuat Indonesia? Pesawat (IPTN) bisa, kapal (PT PAL) bisa, senjata dan kendaraan tempur (PINDAD), dan bisa buat mobil, terus ngapain nggak pakai produk dalam negeri yang bisa memajukan bangsa?”

Sementara kata Tanpa Aran, “Pemerintah tak perlu mendukung, nanti malah ngrepoti saja atau malah jadi lahan korupsi, cukuplah pemerintah memperlancar segala urusan perizinan.”

Perizinan untuk mobil Esemka atau lambatnya pengurusan izin mobil menjadi sorotan banyak pembaca Yahoo Indonesia yang memberi komentar soal mobil Esemka. Dan ini memang yang jadi hambatan utama mobil Esemka. Seperti dikatakan Wakil Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo, mereka sudah mengurus surat dan perizinan untuk mobil itu sejak dua tahun lalu kepada Direktorat Jenderal Perhubungan Darat, tapi sampai saat ini izin itu belum keluar.

5) Mempercepat proses pengembangan hasil karya skala kecil agar segera bisa diwujudkan menjadi produk teruji
Belum dipasarkan saja, sudah banyak harapan yang ditimpakan pada mobil Esemka. Salah satu yang menonjol adalah harapan agar Esemka bisa menjadi mobil yang ramah lingkungan, mengadaptasi teknologi hibrid, sampai menggunakan teknologi mobil listrik. Alasannya, seperti yang dikatakan Udayanto, “Jadi negeri ini tidak melulu bergantung dengan BBM.”

Carol_dea, Imas, dan Alvin juga menekankan perlunya pengembangan mobil Esemka dengan menggunakan teknologi ramah lingkungan. Sementara, menurut Hery, “Untuk ke depanya harus dipikirkan juga kendaraan yang irit BBM atau pemakaian BBM alternatif dan model city car dengan cc kecil irit BBM.”

6) Memberikan keteladanan dari para menteri, anggota DPR, dan para pejabat lain untuk menggunakan produk dalam negeri
Menurut Halim, trik dagangnya Jokowi sangat jitu. “Untuk mempopulerkan produk haruslah pejabat yang pertama kali membeli, tentu saja harus dipantau terus kualitasnya dari bulan ke bulan harus semakin baik. Kami kira pemimpin seperti Pak Jokowi inilah yang akan mendongkrak ekonomi rakyat sehingga pada akhirnya Indonesia akan menjadi negara produsen.”

Sementara Musavi menambahkan ide bagus, “Kalau pemerintah sungguh-sungguh mendukung, maka seharusnya di dalam anggaran pembelian mobil dinas baru harus mencantumkan spesifikasi merk lokal, bukan merk asing. Dan kandungan lokal harus di atas 80%.”

7) Sektor perbankan dan koperasi
Pembaca Mochamad mengusulkan, “Ayo kita iuran Rp 1000 untuk memberi dana kepada mereka biar bisa melanjutkan kreativitas dan kualitasnya.”

Jika Rp 1000 terlalu sedikit, Ketut menanyakan, “Apakah mungkin dibentuk koperasi yang anggotanya adalah rakyat Indonesia pecinta produk nusantara? Dengan menyetor iuran keanggotaan masing-masing Rp 100 ribu, dana ini akan digunakan untuk membiayai modal kerja dan investasi mobil Esemka atau produk-produk unggulan lainnya.” Mirza juga mengusulkan agar dibuka koin investasi mobil Esemka.

Tetapi, yang paling penting lagi, adalah dukungan dari peminjam dana, alias bank. Setidaknya ada tiga pembaca, Mochamad, Chacha, dan Antonius yang mengusulkan, pengajuan kredit modal kerja ke bank adalah langkah awal yang penting untuk mengembangkan mobil Esemka.

Anda setuju? Apakah ada usulan lain yang belum masuk di sini?